Market Pulsa
Home » Blog » Fakta Mengejutkan! Data Center AI Dituding Bikin Satu Kota Mati Listrik, Benarkah?

Fakta Mengejutkan! Data Center AI Dituding Bikin Satu Kota Mati Listrik, Benarkah?

Arindia Melo
20 Oktober 2026
3 menit baca
Fakta Mengejutkan! Data Center AI Dituding Bikin Satu Kota Mati Listrik, Benarkah?

Masifnya pengembangan AI, ditilik dari semakin banyaknya pengguna chatbot, seperti ChatGPT dan Gemini, memiliki sejumlah plus dan minus.

Layaknya dua sisi mata koin, selain instanisasi yang serba canggih, nyatanya AI, membawa pengaruh buruk, terhadap pemakaian listrik.

AI, yang kita nikmati saat ini, tak terlepas dari data center yang menopangnya. Tentu, data center, dalam pengoperasiannya, membutuhkan daya listrik. Sekarang pertanyaannya, “Seberapa besar konsumsi listrik, yang data center AI gunakan?”

Kasarnya, satu data center AI, disinyalir mengonsumsi listrik setara 100.000 rumah. Jumlah yang fantastis, bahkan bisa untuk menghidupi satu lingkungan RT, kalau kita menggunakan kearifan lokal, untuk menggambarkannya.

Jumlah tersebut, belum ada apa-apanya, dengan data center terbesar, yang sedang dibangun, di mana diperkirakan akan mengonsumsi 20 kali lipat lebih banyak daya listrik.

Ada lonjakan besar, dari konsumsi listrik, yang data center AI gunakan. Sejumlah sumber mencatat, penggunaan listrik data center AI global, yang mulanya 415 TWh, di tahun 2024, akan membengkak menjadi 954 TWh, di tahun 2030.

Data center AI, yang bermarkas di Amerika Serikat, menjadi penyumbang terbesar pemakaian listrik, yang diproyeksikan, akan terus berlanjut, sampai akhir dekade 2020-an.

Ancaman Pemadaman Listrik

Dengan konsumsi listrik sebesar ini, data center AI, bukan tidak mungkin, bisa membuat satu kota mengalami pemadaman listrik.

Bahkan, NERC, atau lembaga yang mengawasi pemakaian listrik, di Amerika Utara, bak meramalkan skenario ini, dengan memasukkan data center AI, ke dalam daftar ancaman kestabilan jaringan, yang berpotensi memicu terjadi blackout besar-besaran.

Konsumsi listrik data center AI, bisa melonjak tegangannya karena kelebihan daya, dalam waktu instan, ketika terlepas dari jaringan, secara mendadak.

Sudah Pernah Hampir Kejadian

Mundur sedikit, ke belakang, tepatnya di tanggal 10 Juli 2024, data center AI pernah membuat geger wilayah Northern Virginia, Amerika Serikat.

Pemadaman listrik, yang diakibatkan oleh gangguan penangkal petir kala itu, memaksa data center AI, untuk beralih sementara ke genset.

Masalahnya, upaya ini dilakukan serentak oleh 60 data center. Bayangkan, satu data center saja, konsumsi listriknya sudah sebesar itu, bagaimana dengan puluhan sekaligus, yang melakukan upaya serupa?

Sontak, pemakaian genset tersebut membengkak, sampai 1.500 megawatt, yang setara dengan pemakaian listrik, di 750 ribu lebih rumah, di Amerika Serikat.

Karena lonjakan drastis inilah, wilayah yang mengalami pemadaman listrik, hampir bertambah, merembet tak hanya di wilayah, yang disebut-sebut “Data Center Alley” itu.

Di Indonesia sendiri, kejadian serupa belum pernah kejadian.

Namun, PLN meramalkan, kebutuhan daya listrik data center AI, yang bermarkas di sejumlah kota besar, akan meningkat menjadi 3,5 GW pada 2030, dari yang mulanya 580 MW, di tahun 2026 ini.

Bagikan Artikel

Artikel Terkait

HomeDaftarDepositTransaksiHarga